
Tasawuf di Saudi: Antara Politik Ortodoksi dan Tradisi
Oleh : Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.
(Kaprodi S2 - Studi Islam)
Prolog: Menimbang Ulang Peta Teologis Arab Saudi
Dalam lanskap studi Islam kontemporer, Arab Saudi sering kali dilihat melalui lensa monolitik yang reduktif: sebuah negara-bangsa yang identitas keagamaannya didefinisikan secara tunggal oleh Wahhabisme. Narasi dominan ini cenderung mengabaikan kompleksitas internal, resistensi bawah tanah, dan dinamika negosiasi yang terus berlangsung di antara berbagai aktor keagamaan. Buku karya Besnik Sinani, Sufism in Saudi Arabia Since 1979: The Politics of Orthodoxy in Contemporary Islam (Brill, 2026), menantang hegemoni narasi tersebut. Melalui pendekatan yang menggabungkan etnografi, analisis tekstual filologis, dan sosiologi sejarah, Sinani menyingkap lapisan-lapisan tradisi yang terpinggirkan namun tetap hidup, khususnya tradisi Tasawuf di Hijaz yang berakar pada apa yang ia sebut sebagai The Meccan School.
Buku yang mulanya adalah disertasi doktoral ini menawarkan analisis yang kaya. Sinani tidak hanya mendokumentasikan keberadaan komunitas Sufi di tengah represivitas negara Wahhabi, tetapi juga membongkar mekanisme bagaimana ortodoksi dikonstruksi, dipertahankan, dan diubah. Mengadopsi kerangka kerja Talal Asad, Sinani mendefinisikan ortodoksi bukan sebagai kebenaran teologis yang statis, melainkan sebagai sebuah a relationship of power. Di mana pun kaum Muslim memiliki kekuatan untuk mengatur, menegakkan, atau menyesuaikan praktik yang dianggap benar dan menghukum yang salah, di situlah wilayah ortodoksi berada. Di Arab Saudi, Wahhabisme bukan sekadar aliran pemikiran; ia adalah ortodoksi negara yang didukung oleh aparat koersif, birokrasi, dan modal finansial yang masif.
Tulisan sederhana ini akan menggambarkan pandangan Sinani secara sederhana, menelusuri lintasan historis dari tahun 1979 hingga era Post-Salafism di bawah Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Tulisan ini akan memberikan perhatian khusus pada perdebatan teologis mengenai status ontologis Nabi Muhammad, validitas praktik tawassul dan istighāṡah, serta bagaimana warisan Ibn Taimiyyah diperebutkan oleh kedua belah pihak: Wahhabi yang mengklaim sebagai pewaris tunggalnya, dan Sufi yang melakukan pembacaan tandingan (counter-reading) untuk melegitimasi praktik mereka.
Tradisi Diskursif
Sinani menggunakan pendekatan antropologi Islam yang memandang Islam sebagai discursive tradition (tradisi diskursif). Hal ini memungkinkan dia untuk melihat perdebatan antara Wahhabi dan Sufi bukan sebagai konflik antara Islam murni dan sinkretisme, melainkan sebagai persaingan dua klaim kebenaran yang sama-sama merujuk pada masa lalu (Al-Qur’an, Sunnah, dan Salaf) untuk melegitimasi praktik di masa kini dan memproyeksikan masa depan. Bagi Wahhabi, masa lalu adalah momen puritan yang harus dipulihkan dengan membersihkan bid‘ah; bagi Sufi Hijaz, masa lalu adalah kontinuitas sanad keilmuan dan spiritual yang tidak terputus yang menghubungkan mereka dengan Nabi.
Studi dalam buku ini didasarkan pada penelitian lapangan yang ekstensif di Mekkah, Madinah, dan Jeddah, serta wawancara dengan para praktisi Sufi, ulama, dan analisis terhadap korpus literatur polemik yang diproduksi oleh kedua belah pihak. Dengan latar belakang ini, tulisan ini akan menguraikan temuan-temuan kunci Sinani beserta komentar dari perspektif sejarah pemikiran Islam.
Bab 1: Kuburan Nabi sebagai Situs Konflik Teologis yang Belum Usai
Pusat dari konflik teologis di Arab Saudi adalah keberadaan makam Nabi Muhammad di dalam Masjid Nabawi di Madinah. Bab pertama buku ini, The Standing Shrine, mengidentifikasi makam Nabi sebagai lokasi paradoks utama dalam proyek reformasi Wahhabi.
Unfinished Reform
Sinani menyoroti bahwa dalam logika teologi Wahhabi yang ketat, keberadaan bangunan di atas kuburan, apalagi kuburan yang berada di dalam masjid, adalah manifestasi kesyirikan atau setidaknya sarana (żarī‘ah) menuju syirik yang harus dihilangkan. Sejarah mencatat bagaimana tentara Saudi pertama dan ketiga menghancurkan kuburan-kuburan di Baqi‘ dan Ma‘la. Namun, Kubah Hijau (al-Qubbah al-Khaḍrā’) di atas makam Nabi tetap berdiri. Bagi kalangan Wahhabi puritan garis keras, ini adalah berhala yang belum dihancurkan, sebuah kompromi politik yang mencederai kemurnian tauhid.
Analisis Sinani menunjukkan bahwa kelangsungan makam ini bukan karena penerimaan teologis, melainkan kalkulasi politik pragmatis penguasa Saudi yang menyadari bahwa penghancuran makam Nabi akan memicu kemarahan global umat Islam dan delegitimasi total kepemimpinan Saudi atas Dua Tanah Suci. Oleh karena itu, konflik dialihkan dari penghancuran fisik struktur (yang tidak mungkin dilakukan secara politik) ke pengawasan ketat terhadap perilaku peziarah. Polisi agama (Muṭawwa’) dan papan-papan peringatan dikerahkan untuk mendisiplinkan tubuh dan doa para peziarah agar sesuai dengan ortodoksi Wahhabi.
Ibn Taimiyyah dan Genealogi Larangan Ziarah
Ibn Taimiyyah, dalam fatwa-fatwanya yang terkenal (seperti Al-Jawāb al-Bāhir dan Al-Risālah al-Qabrūyyah), melarang sadd al-riḥāl (mengencangkan pelana/bepergian jauh) dengan niat khusus semata-mata untuk mengunjungi kuburan, termasuk kuburan Nabi. Ia mendasarkan ini pada hadis: Janganlah mengencangkan pelana kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini, dan Masjidil Aqsa.

Sinani menunjukkan nuansa penting: Ibn Taimiyyah tidak melarang ziarah itu sendiri jika seseorang sudah berada di Madinah; yang ia larang adalah safar (perjalanan) ibadah yang ditujukan khusus ke kuburan, karena dianggap menyerupai ibadah haji. Namun, dalam praktik Wahhabi modern, nuansa ini sering kali hilang dan digantikan oleh kecurigaan umum terhadap setiap bentuk emosi atau ritual di sekitar makam.
Istighāṡah dan Politik Tauhid
Inti dari ketegangan ini adalah konsep Istighāṡah (meminta pertolongan) dan Tawassul (perantara). Bagi Wahhabi, yang mengikuti interpretasi ketat Ibn ‘Abd al-Wahhāb terhadap Ibn Taimiyyah, meminta sesuatu kepada orang mati —meskipun itu Nabi— adalah syirik akbar dalam Tauḥīd Ulūhiyyah. Mereka berargumen bahwa orang musyrik Mekkah pun percaya Allah adalah pencipta (Tauḥīd Rubūbiyyah), tetapi mereka kafir karena menjadikan berhala sebagai perantara (ṣufa’a).
Sinani dengan jeli mencatat bahwa wacana ini bukan sekadar debat skolastik, tetapi memiliki implikasi hukum dan politik. Jika pelaku istighāṡah dianggap musyrik, maka darah dan harta mereka halal (dalam konteks jihad Wahhabi awal), atau setidaknya mereka layak dieksklusi dari ruang publik dan jabatan keagamaan di negara modern.
Bab 2: Muḥammad ‘Alawī al-Mālikī
Bab kedua berfokus pada tokoh sentral perlawanan terhadap hegemoni Wahhabi: Sayyid Muḥammad ‘Alawī al-Mālikī (1944–2004). Sinani menggambarkan Al-Mālikī bukan hanya sebagai ulama individu, tetapi sebagai simpul dari jaringan keilmuan global dan memori kolektif Hijaz.
Genealogi Otoritas: Isnād dan Warisan
Al-Mālikī memiliki modal simbolik yang besar. Ia berasal dari keluarga Sādah (keturunan Nabi), putra dari Sayyid ‘Alawī al-Mālikī (ulama besar Mekkah), dan memiliki isnād (rantai transmisi keilmuan) yang bersambung ke berbagai ulama besar dunia Islam, dari Al-Azhar hingga Deoband dan Ḥaḍramaut. Sinani menekankan bahwa dalam tradisi Sufi/Tradisionalis, otoritas tidak hanya didapat dari teks (seperti dalam Salafisme), tetapi dari koneksi personal yang hidup (ṣuḥbah) dengan guru yang tersambung hingga Nabi.
Mafāhīm Yajib an Tuṣaḥḥah
Magnum opus Al-Mālikī, Mafāhīm Yajib an Tuṣaḥḥaḥ (Pemahaman yang Harus Diluruskan), diterbitkan pada 1985 sebagai respon langsung terhadap serangan Wahhabi. Sinani melakukan bedah teologis yang mendalam terhadap buku ini; Hayāt al-Barzakhiyyah (Kehidupan Barzakh): Al-Mālikī berargumen bahwa Nabi Muhammad tetap hidup di alam kubur dengan kehidupan yang lebih sempurna dari kehidupan duniawi. Ia mengutip hadis-hadis yang menunjukkan bahwa amal umat ditampakkan kepada Nabi dan Nabi memohonkan ampun bagi mereka. Jika Nabi hidup dan mendoakan umat, maka meminta syafaat kepadanya (istisyfā'‘) adalah logis dan valid secara syar‘ī; Tawassul bukan Syirik: Al-Mālikī mendekonstruksi tuduhan syirik dengan membedakan antara sebab dan pencipta sebab. Orang yang bertawassul meyakini bahwa hanya Allah yang mengabulkan doa, sedangkan Nabi hanyalah wasīlah (perantara) yang dicintai Allah. Ia menggunakan dalil-dalil yang juga diakui oleh Ibn Taimiyyah (seperti kisah buta yang diajarkan doa tawassul oleh Nabi) untuk menunjukkan bahwa Wahhabi telah menyimpang dari konsensus Sunni; Kritik terhadap Konsep Syirik Wahhabi: Al-Mālikī menantang simplifikasi Wahhabi yang menyamakan Muslim yang bertawassul dengan penyembah berhala Jahiliyah. Ia menegaskan bahwa Tauhid umat Islam sudah mapan, dan tindakan penghormatan (ta‘ẓīm) kepada Nabi tidak boleh disalahartikan sebagai penyembahan (ibadah).
Strategi Diskursif Al-Mālikī
Sinani menunjukkan kecerdikan Al-Mālikī dalam menggunakan otoritas Ibn Taimiyyah untuk melawan Wahhabi. Al-Mālikī sering mengutip bagian-bagian dari karya Ibn Taimiyyah yang membolehkan bentuk-bentuk tertentu dari tabarruk (mencari berkah) atau yang mengakui keutamaan ahlul bait, untuk menunjukkan bahwa Wahhabi kontemporer lebih ekstrem daripada rujukan utama mereka sendiri. Ini adalah strategi memukul lawan dengan senjata lawan.
Bab 3: Menghadapi Ortodoksi Wahhabi
Bab ini mendokumentasikan respon institusional negara terhadap tantangan Al-Mālikī. Sinani menempatkan persekusi Al-Mālikī dalam konteks pasca-1979, di mana negara Saudi, yang terguncang oleh Kudeta Juhayman dan Revolusi Iran, merasa perlu menegaskan kembali kredibilitas Wahhabi-nya.
Mekanisme Pengucilan: Dewan Ulama Senior
Lembaga resmi negara, Hay’at Kibār al-‘Ulamā’ (Dewan Ulama Senior), dimobilisasi untuk memvonis Al-Mālikī. Sinani menganalisis fatwa dan keputusan yang dikeluarkan oleh tokoh-tokoh seperti Bin Baz dan Abdullah bin Mani‘. Buku Ibn Mani‘, Ḥiwār ma‘a al-Mālikī, menjadi teks resmi yang menuduh Al-Mālikī sebagai penyebar bid‘ah dan kesyirikan. Al-Mālikī dipecat dari posisinya di Universitas Umm al-Qura dan dilarang mengajar di Masjidil Haram. Paspornya ditahan, dan buku-bukunya dilarang beredar.
Peran Gerakan Ṣahwah
Sinani memberikan analisis tajam tentang peran gerakan Ṣahwah (Kebangkitan Islam); hibridasi antara ideologi Ikhwanul Muslimin dan teologi Wahhabi, dalam memperkeruh suasana. Tokoh Ṣahwah seperti Safar al-Ḥawālī menyerang Al-Mālikī dengan virulensi yang lebih besar daripada ulama tradisional. Bagi Ṣahwah, Al-Mālikī merepresentasikan Musuh Dalam Selimut atau Agama Lain yang merusak kemurnian Islam dari dalam. Sinani mencatat bahwa Ṣahwah menggunakan isu Sufisme untuk memobilisasi basis massa mereka dan menekan pemerintah agar lebih Islami (baca: lebih Wahhabi).
Takfīr sebagai Senjata Politik
Salah satu poin krusial dalam bab ini adalah analisis tentang penggunaan Takfīr (pengkafiran). Al-Mālikī dalam bukunya At-Taḥżīr min al-Mujāzafah bi al-Takfīr (Peringatan dari Bermudah-mudahan dalam Takfir) mengkritik keras kecenderungan Wahhabi untuk mengeluarkan Muslim dari Islam hanya karena perbedaan masalah furū‘iyyah (seperti tawassul). Sinani menunjukkan bahwa bagi Wahhabi, takfīr bukan sekadar mekanisme hukum, tetapi alat politik untuk mendisiplinkan perbedaan dan menegakkan homogenitas ideologis negara.
Bab 4: The Meccan School
Bab 4 bergerak mundur secara historis untuk menggali akar intelektual Al-Mālikī. Sinani memperkenalkan konsep Mażhab Mekkah sebagai sebuah ekosistem keilmuan yang kosmopolitan dan pluralis yang mendominasi Hijaz sebelum aneksasi Saudi.
Kosmopolitanisme Hijazi vs. Partikularisme Najdi
Sinani menggambarkan Mażhab Mekkah sebagai jaringan yang mencakup empat mazhab Sunni (Hanafi, Maliki, Syafi‘i, Hanbali) dan berbagai tarekat Sufi. Tokoh-tokoh seperti Aḥmad Zainī Dahlān (mufti Syafi‘i Mekkah abad ke-19) menjadi rujukan utama dalam kritik awal terhadap Wahhabisme. Wahhabisme, yang berasal dari Najd, dilihat sebagai intrusi asing dan barbar yang menghancurkan tradisi peradaban Islam yang halus dan mapan di Hijaz.
Wahhabisme: The Breaking the Chain
Argumen teoretis yang kuat dari Sinani di sini adalah bahwa Wahhabisme bertindak sebagai kekuatan yang breaking the chain of connection (memutus rantai). Dalam tradisi Sufi/Mażhab Mekkah, agama dipahami melalui transmisi personal yang bersambung (isnad). Wahhabisme, dengan seruannya untuk kembali langsung ke teks (Al-Qur’an dan Sunnah) dan menolak taklid serta otoritas para wali dan ulama terdahulu (dalam mediasi spiritual), secara efektif memutus hubungan organik umat dengan masa lalunya. Penghancuran situs-situs sejarah di Mekkah dan Madinah adalah manifestasi fisik dari pemutusan memori ini.
Dialog Nasional 2003: Momen Pengakuan Terbatas
Sinani mencatat bahwa tekanan terhadap Mażhab Mekkah mulai mereda sedikit pasca-9/11. Dalam Dialog Nasional 2003, Al-Mālikī diundang sebagai representasi suara non-Wahhabi. Ini adalah momen penting di mana negara, di bawah tekanan internasional untuk memerangi ekstremisme, mulai mengakui (meski secara terbatas) keberadaan pluralitas mazhab. Namun, Sinani memperingatkan agar tidak melihat ini sebagai liberalisasi penuh, melainkan kooptasi strategis.
Bab 5: Sayyid Ba ‘Alawī: Genealogi dan Strategi Bertahan
Bab 5 memfokuskan lensa pada komunitas diaspora Ḥaḍramī di Arab Saudi, khususnya para Sayyid dari tarekat Ba ‘Alawī. Sinani menjelaskan bagaimana kelompok ini memainkan peran kunci dalam melestarikan tradisi Sufi di bawah represi.
Migrasi dan Adaptasi: Dari Ḥaḍramaut ke Hijaz
Akibat persekusi oleh rezim komunis di Yaman Selatan, banyak ulama Ba ‘Alawī bermigrasi ke Arab Saudi. Di sana, mereka membentuk jaringan informal yang kuat. Tokoh seperti Ḥabīb ‘Abd al-Qādir al-Saqqāf dan Ḥabīb Aḥmad Masyhūr al-Ḥaddād menjadi pilar spiritual.
Strategi Diskursif: Ṭarīqah Salaf
Sinani menemukan temuan menarik tentang strategi adaptasi Ba ‘Alawī. Menghadapi hegemoni wacana Salafi yang diklaim Wahhabi, Ba ‘Alawī tidak menolak istilah tersebut tetapi merebutnya kembali. Mereka menyebut jalan mereka sebagai Ṭarīqah al-Salaf (Jalan Para Leluhur). Namun, bagi Ba ‘Alawī, Salaf bukan hanya konsep abstrak generasi awal, tetapi merujuk pada leluhur biologis dan spiritual mereka sendiri; para Habaib dan Wali yang silsilahnya bersambung ke Nabi. Ini adalah strategi legitimasi yang brilian: membungkus praktik Sufi dengan terminologi yang memiliki mata uang tinggi di pasar keagamaan Saudi.
Sinani mendeskripsikan peran Majlis (pertemuan privat di rumah-rumah) sebagai ruang utama transmisi pengetahuan. Karena dilarang di masjid-masjid publik, Sufisme mundur ke ruang domestik. Di majlis inilah, teks-teks klasik dibaca, zikir dilantunkan, dan adab (etika) ditanamkan secara intensif, jauh dari pengawasan polisi agama.
Bab 6: Otoritas Baru dan Media
Bab 6 menganalisis transformasi kontemporer dengan munculnya tokoh-tokoh muda yang memanfaatkan teknologi modern.
Ḥabīb ‘Alī al-Jifrī dan ‘Abd Allāh Fadaq: Wajah Baru Sufisme
Sinani menyoroti tokoh seperti Ḥabīb ‘Alī al-Jifrī dan ‘Abd Allāh Fadaq. Berbeda dengan generasi tua yang tertutup, mereka tampil di televisi satelit dan media sosial, menjangkau audiens global. Mereka merepresentasikan Neo-Tradisionalisme; sebuah gerakan yang menggabungkan ortodoksi teologis (Asy‘arī/Ṣūfī) dengan kemasan modern dan keterlibatan sosial.
Sinani berargumen bahwa pasca serangan 9/11 dan gelombang teror Al-Qaeda di Saudi (2003-2004), negara mulai melihat Sufisme sebagai sekutu potensial untuk melawan ideologi Jihadi-Salafi. Sufisme yang menekankan spiritualitas, ketaatan pada penguasa (quietism), dan anti-kekerasan, menjadi menarik bagi negara. ‘Abd Allāh Fadaq, misalnya, sering muncul di media sebagai wajah publik Sufisme Saudi yang moderat dan loyal.
Bab 7 dan Kesimpulan: MBS dan Post-Salafism
Bab terakhir dan kesimpulan membawa analisis ke masa kini yang paling krusial: era Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS).
Post-Salafism
Sinani memperkenalkan konsep teoretis penting: Post-Salafism. Ini tidak berarti hilangnya Salafisme sama sekali, tetapi menandai fragmentasi otoritas Salafi dan revisi doktrinal internal akibat tekanan politik negara dan dinamika global. Di bawah MBS, kekuasaan ulama Wahhabi dipangkas drastis (misalnya, pencabutan wewenang penangkapan oleh polisi agama). Negara tidak lagi bergantung pada legitimasi Wahhabi puritan untuk kelangsungan hidupnya, melainkan beralih ke legitimasi berbasis kinerja ekonomi dan nasionalisme hiper-Saudi (hyper-nationalism).
Namun, Sinani memberi catatan penting: liberalisasi sosial di era MBS (konser, bioskop) tidak berbanding lurus dengan kebebasan beragama. Sebaliknya, terjadi apa yang ia sebut sebagai Wahhabization of a shrinking religious field (Wahhabisasi lapangan keagamaan yang menyusut).
Majelis-majelis Sufi yang sempat menikmati kebebasan relatif di era Raja Abdullah kembali ditekan atau ditutup. Negara ingin memonopoli seluruh wacana keagamaan. Segala bentuk otonomi religius; baik itu Islamis Ṣahwah maupun jaringan Sufi independen, dilihat sebagai ancaman potensial bagi sentralisasi kekuasaan absolut MBS. Judul Bab 7, The Majlis is Closed, merujuk pada fenomena ini. Ruang-ruang privat yang dulu menjadi suaka bagi tradisi Sufi kini berada di bawah pengawasan ketat aparat keamanan negara yang diperbarui.
Sinani juga mengidentifikasi tren International Anti-Revolutionary Ecumenism (Ekumenisme Anti-Revolusioner Internasional). Arab Saudi di bawah MBS, bersama UEA (yang mempromosikan tokoh seperti Syaikh ‘Abd Allāh bin Bayyah dan Hamza Yusuf), mempromosikan narasi Islam Moderat di panggung global. Namun, moderasi di sini didefinisikan secara politis sebagai sikap anti-Ikhwanul Muslimin, anti-Iran, dan kepatuhan mutlak pada penguasa (waliy al-amr). Dalam skema ini, elemen Sufi tertentu dikooptasi hanya sejauh mereka melayani narasi kontra-revolusi ini, sementara substansi tradisi kritis mereka dikebiri.
Masa Depan Tradisi
Dalam kesimpulannya, Sinani menegaskan bahwa pertarungan di Arab Saudi bukan sekadar soal doktrin, tetapi soal siapa yang berhak mendefinisikan Islam di era modern. Meskipun institusi Wahhabi telah dijinakkan (defanged) secara politik oleh MBS, struktur teologis dasarnya (eksklusivisme, penolakan terhadap tradisi pluralis) masih tertanam dalam birokrasi agama dan kurikulum pendidikan. Nasib Sufisme di Saudi tetap tidak pasti: terjepit antara represivitas lama Wahhabi dan otoritarianisme baru negara sekuler-nasionalis.
Catatan Analisis
Buku ini memberikan bukti empiris yang kuat bahwa “Wahhabisme Negara” bukanlah representasi setia dari pemikiran Ibn Taimiyyah. Sinani menunjukkan bagaimana nuansa, syarat-syarat ketat (syurūṭ), dan penghalang (mawāni‘) dalam teologi Ibn Taimiyyah (terutama soal takfīr dan tabarruk) sering kali diabaikan oleh birokrasi agama Saudi demi kepentingan kontrol sosial yang kaku.
Sinani memperlihatkan fenomena menarik di mana ulama Sufi seperti Al-Mālikī tidak menolak Ibn Taimiyyah, tetapi menyelamatkannya dari pembacaan Wahhabi. Mereka menggunakan otoritas Ibn Taimiyyah untuk memvalidasi posisi Sufi, menunjukkan bahwa Syaikh al-Islām memiliki sisi yang lebih kompleks daripada yang diakui pengikut modernnya. Buku ini mengingatkan para teolog bahwa ide-ide tidak beroperasi di ruang hampa. Doktrin tentang ziarah atau tawassul menjadi ortodoksi atau heresi bukan semata karena kekuatan argumen dalilnya, tetapi karena dukungan kekuasaan politik yang menentukan mana yang boleh disuarakan di ruang publik dan mana yang harus dibungkam.

Karya Besnik Sinani adalah kontribusi akademik yang mengubah cara memahami dinamika agama di Arab Saudi. Ia membuktikan bahwa di balik fasad monolitik Wahhabisme, terdapat denyut nadi tradisi yang terus berdegup, beradaptasi, dan melawan; sebuah tradisi diskursif yang menolak untuk mati. Buku ini adalah bacaan yang baik untuk memahami bagaimana teologi abad pertengahan terus membentuk dan dibentuk oleh politik kontemporer.