Loading...

Spiritualitas dalam Pusaran Modernitas: Dialektika Hamka dan Fazlur Rahman

Diterbitkan pada
30 Desember 2025 09:23 WIB

Baca

 

Spiritualitas dalam Pusaran Modernitas: Dialektika Hamka dan Fazlur Rahman

Oleh : Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.

(Kaprodi S2 - Studi Islam)

 

Prolog

Dunia Muslim pada abad ke-20 berdiri di sebuah persimpangan sejarah yang penuh gejolak. Dominasi kolonial Barat, kemajuan sains, serta penyebaran ideologi sekuler-materialistik telah menciptakan krisis identitas yang mendalam. Modernitas, di satu sisi menawarkan kesejahteraan ekonomi, namun di sisi lain membawa tantangan eksistensial berupa individualisme dan konsumerisme yang memarginalkan peran agama. Kondisi ini melahirkan apa yang disebut sebagai kebosanan yang luar biasa (great boredom) dan perasaan hampa, seolah ada sesuatu yang fundamental yang hilang dari jiwa manusia modern.

Dalam konteks kegelisahan zaman inilah, dua intelektual besar Muslim; Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) dari Indonesia dan Fazlur Rahman dari Pakistan, muncul sebagai arsitek penting dalam merekonstruksi bangunan spiritualitas Islam. Meskipun berangkat dari latar belakang sosiologis dan audiens yang berbeda, keduanya berbagi satu kepedulian; menjadikan spiritualitas Islam sebagai kekuatan transformatif yang positif bagi masyarakat modern.

Antara Formalisme dan Fatalisme

Bacaan analitis terhadap pemikiran Hamka dan Rahman mengungkapkan bahwa keduanya bertolak dari diagnosis yang sama terhadap krisis umat. Mereka melihat umat Islam terjebak di antara dua ekstrem yang melumpuhkan; formalisme hukum (fiqh) yang kaku dan kering, serta praktik tasawuf yang telah menyimpang menjadi asketisme pasif dan fatalistik.

Hamka menyoroti bahwa pemahaman tasawuf yang keliru; seperti isolasi diri sepenuhnya dari masyarakat (‘uzlah) dan kebencian terhadap kemajuan materi, telah melumpuhkan etos kerja dan kreativitas umat. Senada dengan itu, Rahman menilai bahwa teologi dominan yang menekankan kemahakuasaan absolut Tuhan telah melahirkan sikap fatalistik (jabariyyah) yang melumpuhkan tanggung jawab moral manusia. Bagi kedua pemikir ini, terdapat kebutuhan mendesak untuk merumuskan kembali spiritualitas yang tidak menolak dunia, melainkan yang mampu mentransformasi dunia.

Hamka dan Revitalisasi Tasawuf

Hamka memilih jalan reformasi pastoral yang bekerja dari dalam tradisi. Ia memposisikan dirinya sebagai pewaris sah tradisi tasawuf Sunni, khususnya al-Ghazālī, namun berupaya membersihkan warisan ini agar relevan bagi masyarakat luas. Langkah fundamental Hamka adalah mendekonstruksi tasawuf negatif yang identik dengan pakaian compang-camping dan pengabaian tanggung jawab sosial.

Sebagai gantinya, ia menawarkan Tasawuf Positif atau Tasawuf Modern yang berpusat pada akhlāq al-karīmah (budi pekerti luhur) dan tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa). Tujuan akhirnya adalah mencapai i‘tidāl atau keseimbangan harmonis antara akal dan hasrat. Salah satu kontribusi paling revolusioner Hamka adalah penafsirannya yang dinamis terhadap konsep-konsep sufi. Baginya, qanā‘ah (rasa cukup) bukanlah menerima kemiskinan, melainkan mentalitas tidak serakah yang membebaskan manusia untuk bekerja produktif.

Hamka bahkan memperluas makna farḍu kifāyah secara radikal; mendirikan pabrik, rumah sakit, hingga menyediakan transportasi modern dianggap sebagai ibadah dan manifestasi spiritualitas yang hidup jika diniatkan untuk kemaslahatan umat. Dengan demikian, tasawuf Hamka berfungsi sebagai fondasi moral bagi pembangunan bangsa (nation-building).

Fazlur Rahman dan Rekonstruksi Metodologis Radikal

Berbeda dengan pendekatan pastoral Hamka, Rahman menempuh jalan rekonstruksi filosofis yang radikal. Ia tidak hanya ingin membersihkan praktik yang ada, tetapi merombak metode penafsiran itu sendiri. Rahman sangat kritis terhadap tren tasawuf panteistik (seperti waḥdat al-wujūd) yang ia anggap mengaburkan perbedaan ontologis antara Tuhan dan manusia, sehingga menumpulkan tanggung jawab moral.

Konsep sentral dalam spiritualitas Rahman bukanlah penyucian jiwa yang terisolasi, melainkan taqwā yang didefinisikan ulang secara aktif sebagai kesadaran moral yang waspada terhadap kehadiran Tuhan. Taqwā menjadi kompas batin untuk menavigasi ketegangan antara kepentingan pribadi dan masyarakat.

Untuk memproduksi etika modern ini, Rahman menciptakan mesin intelektual yang dikenal sebagai hermeneutika double movement (gerakan ganda). Langkah pertama adalah bergerak dari masa kini ke masa lalu untuk menangkap prinsip etis universal di balik ayat al-Qur’an (misalnya prinsip keadilan di balik larangan riba). Langkah kedua adalah membawa prinsip tersebut kembali ke masa kini untuk menjawab tantangan kontemporer. Dengan metode ini, spiritualitas menjadi keterlibatan sadar sejarah, bukan lagi pelarian dari realitas.

Dialektika Hamka dan Rahman

Perbandingan antara Hamka dan Rahman menunjukkan dialektika yang kaya dalam pemikiran Islam modern. Meskipun keduanya sama-sama menolak spiritualitas pasif dan menentang taqlīd (ketaatan buta), mereka menawarkan paradigma yang berbeda.

Menariknya, kedua tokoh ini sama-sama merujuk pada Ibn Taimiyyah. Bagi Hamka, Ibn Taimiyyah adalah rujukan untuk memurnikan tauhid, sedangkan bagi Rahman, ia adalah model reformis yang kritis. Warisan Hamka akhirnya membentuk corak keberagamaan moderat di Asia Tenggara, sementara Rahman menyediakan fondasi metodologis bagi diskursus Islam progresif global.

Epilog

Kedua model ini menawarkan jalan ketiga yang krusial dalam menghadapi ekstremisme, sekularisme, dan materialisme. HAMKA membuktikan bahwa menjadi Muslim sukses secara materi dan melek teknologi tidak bertentangan dengan spiritualitas. Sementara itu, Rahman menegaskan bahwa akal dan sains modern adalah alat yang diperlukan untuk memahami wahyu.

Tulisan ini melihat adanya potensi sintesis yang menjanjikan di masa depan. Kekuatan utama Hamka terletak pada aksesibilitasnya yang menyentuh hati, namun terkadang kurang memiliki landasan metodologis yang sistematis. Sebaliknya, kekuatan Rahman terletak pada kerangka hermeneutika yang sangat solid namun sulit diakses oleh audiens non-akademik.

Sintesis masa depan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin metodologis Rahman untuk memperkuat dan memperbaharui pesan-pesan spiritual Hamka yang pastoral dan membumi. Dengan kata lain, tujuan pembangunan moral massa (Hamka) diimplementasikan melalui metodologi yang ketat (Rahman). Integrasi semacam ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara wacana elit akademik dan kebutuhan spiritual masyarakat luas, menciptakan spiritualitas Islam yang otentik, cerdas secara intelektual, sekaligus transformatif secara sosial.

Wallāh A‘lam bi al-Ṣawāb