Loading...

Semangat Durian Musang King untuk Tiga Guru Besar UIN Surakarta

Diterbitkan pada
6 Februari 2026 09:31 WIB

Baca

 


PascasarjanaNews- Pada Jumat, 06 Februari 2026, tiga dosen UIN Raden Mas Said Surakarta dikukuhkan sebagai Guru Besar: Prof. Dr. H. Zainul Abas, S.Ag.,M.Ag di bidang ilmu Teologi Islam Indonesia; Prof. Dr. Zaidah Nur Rosidah, M.H. di bidang ilmu Hukum Perlindungan Konsumen; dan Prof. Dr. Andi Arif Rifai, M.Ag. bidang ilmu Administrasi Pendidikan. 

Atas keberhasilan mereka ini, Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta menyampaikan ucapan selamat yang diekspresikan melalui taliberkah pohon durian jenis Musang King. Cara ini dilakukan dalam rangka mewujudkan prinsip trihitakarana, pentingnya kesadaran ekoteologis, serta salah satu pengingat dalam mencintai dan merawat alam semesta. 

Mengapa Durian Musang King yang dipilih?
Durian Musang King dikenal juga sebagai Durian Raja Kunyit. Ia disebut Musang King karena diambil dari lokasi asal di dekat Gua Musang, Malaysia, yang terinspirasi dari kejelian musang dalam memilih durian berkualitas terbaik. Ini melambangkan kualitas yang diakui oleh pengamat, bukan sekadar klaim sepihak. 

Durian Musang King bukan sekadar buah premium yang menawarkan rasa manis dan legit, melainkan sebuah simbol pencapaian tertinggi dalam dunia buah-buahan.  Ia tidak dipetik mentah, melainkan dibiarkan matang sempurna di pohon hingga jatuh sendiri. Dagingnya yang kuning keemasan, tebal, dan lembut—dengan sentuhan rasa sedikit pahit—adalah representasi dari "kesempurnaan yang lahir dari keseimbangan rasa". 

Fitrah dan karakteristik seorang Guru Besar, secara simbolik dapat kita temukan pada diri durian Musang King ini. Pertama, "Kematangan" Akademik dan Pengalaman.
Musang King jatuh saat sudah benar-benar matang. Ini adalah simbol bahwa seorang Guru Besar tidak lahir instan. Gelar tersebut adalah hasil dari proses panjang—penelitian, pengabdian, dan pengajaran bertahun-tahun—hingga mencapai kematangan intelektual yang utuh, seperti Musang King yang akan sempurna kualitasnya saat matang di pohon. 

Kedua, Kualitas Unggul.
Warna kuning kunyit yang tebal dan tekstur lembut khas Musang King melambangkan keilmuan seorang profesor yang tidak hanya teoritis, tetapi juga aplikatif dan mudah dipahami/dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, seperti tekstur Musang King yang lembut/creamy. 

Ketiga, Keseimbangan Manis dan Pahit. Cita rasa Musang King adalah kombinasi manis legit dengan sedikit sentuhan pahit. Ini adalah metafora sempurna untuk seorang Guru Besar: memiliki ilmu yang "manis" (menyenangkan/bermanfaat), namun tetap realistis dan kadang harus menyampaikan kebenaran ilmiah yang "pahit" (kritis) demi kemajuan ilmu pengetahuan. Semua ini lahir dari kesempurnaan kebijaksanaan. 

Empat, Duri Tajam. Kulit Musang King berduri piramidal besar dan tajam. Ini adalah simbol perlindungan—seorang profesor harus memiliki karakter yang kuat, prinsip akademis yang kokoh, dan pertahanan terhadap integritas, sehingga tidak mudah digoyahkan oleh kepentingan praktis dan politik sektarian. 

Kelima, Terbatas dan Bernilai Tinggi.
Musang King berharga mahal karena kualitas, rasa yang tiada duanya, dan jumlahnya terbatas. Seorang Guru Besar adalah aset yang terbatas dan eksklusif dalam suatu institusi, yang nilai keberadaannya dihargai tinggi karena kepakarannya yang spesifik dan mendalam. 

Ala kulli hal, Guru Besar layaknya Musang King: Sebuah karya "Raja" yang matang karena waktu dan pengalaman, memiliki warna keilmuan yang memikat (keemasan), tekstur pemikiran yang mendalam (tebal, mendalam dan lembut), serta kebijaksanaan yang seimbang (manis-pahit). Ia adalah hasil seleksi alam yang tajam, menawarkan "rasa" tertinggi dari dunia akademik.