
Rekonstruksi Harmoni Sufi-Salafi
Oleh : Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.
(Kaprodi S2 - Studi Islam)
Sejarah intelektual Islam senantiasa diwarnai oleh dialektika antara dimensi eksoterik (syariat) dan esoterik (hakikat). Dalam diskursus kontemporer, dua kutub ini sering kali dipersonifikasikan oleh gerakan Salafi yang menekankan pada kemurnian tauhid dan formalisme ketat syariat, serta gerakan Sufi yang menitikberatkan pada penyucian jiwa (tazkiyat al-nafs) dan kelembutan hati. Ketegangan antara keduanya sering kali berujung pada saling menyesatkan (taḍlīl). Namun, faktanya, Islam tidak pernah mengajarkan dikotomi antar keduanya, justru Islam datang untuk menegaskan bahwa dua dimensi tersebut saling terkait dan. berkelindan. Maka, dalam konteks dualistik ini, tawaran paradigma konvergensi di mana Salafi mengadopsi sisi spiritualitas Sufi, dan Sufi mengadopsi ketegasan metodologi Salafi dalam memfilter amalan menyimpang perlu dikenalkan.
Keberagaman adalah sunatullah yang telah diterima sejak masa awal Islam. Sebagaimana dijelaskan dalam banyak literatur Islam. Meski beragam, umat telah bersepakat dalam keragaman mazhab fikih sejak masa Abū Ḥanīfah. Jika perbedaan dalam hukum praktis (furū‘iyyah) dapat ditoleransi, maka perbedaan dalam corak pendekatan dakwah, selama masih dalam koridor Islam yang sahih, seharusnya dipandang sebagai bentuk kekayaan, bukan sumber perpecahan.
Sering kali, kritik terhadap kaum Salafi berkisar pada aspek kekakuan dalam interaksi sosial dan keberagamaan. Dan kritik terhadap Sufi pada aspek amalan yang seringkali longgar dari aturan-aturan syariat. Jika saja hati kaum Salafi dilembutkan melalui riqqat al-qalb yang menjadi ciri khas tasawuf. Dan sebaliknya, amalan para Sufi dilandasi praktik-praktik yang memiliki landasan kuat syariat. Di sinilah peran bersufi bagi salafi dan bersalafi bagi Sufi menjadi krusial untuk memastikan bahwa setiap aturan syariat dijalankan dengan kelembutan dan kasih sayang, dan gerak spiritual senantiasa berpijak pada tradisi salaf al-ṣāliḥ dan syariat.
Mari lihat sejenak catatan sejarah bagaimana kisah Bilāl bin Rabah memberikan pelajaran berharga tentang prioritas dalam beragama. Bilāl, dengan keterbatasan kapasitas hafalannya, fokus pada inti dari segala doa; riḍā Allah dan keselamatan di akhirat. Nabi kemudian mengonfirmasi bahwa seluruh zikir yang rumit sekalipun sebenarnya berputar lalu bermuara di sekitar tujuan yang sama dengan apa yang dibaca Bilāl. Hal ini mengajarkan bahwa meskipun metodologi (manhaj) berbeda, tujuan akhirnya sama.
Integrasi antara Salafi yang bertasawuf dan Sufi yang bersalafi akan melahirkan sosok muslim yang moderat (wasaṭ). Ia adalah seorang yang teguh dalam memegang kuat prinsip tauhid dan syariat (karakter Salafi), namun memiliki empati, kasih sayang, dan kedalaman spiritual yang tinggi (karakter Sufi). Tanpa dimensi spiritual, agama akan menjadi kumpulan aturan yang kering dan kaku. Sebaliknya, tanpa dimensi syariat yang kuat, spiritualitas akan kehilangan arah dan terjebak dalam subjektivitas yang menyesatkan.
Persatuan umat tidak berarti penyeragaman seluruh pemikiran, melainkan harmoni dalam perbedaan. Upaya mensalafikan Sufi dan mensufikan Salafi adalah upaya untuk mengembalikan Islam pada wajahnya yang moderat (wasaṭiyyah). Dengan menghargai perbedaan kapasitas individu dan mengedepankan esensi daripada sekadar label dan slogan, umat Islam dapat keluar dari jebakan sektarianisme yang selama ini melemahkan kekuatan peradaban Islam. Sebagaimana pesan Nabi kepada Bilāl, yang terpenting adalah kejujuran dalam mencari riḍā Tuhan, karena di sanalah kemenangan yang hakiki bersemayan.
Wallāh A‘lam bi al-Sạwāb