
PascasarjanaNews- Ratusan mahasiswa memenuhi Aula Pascasarjana Kampus II UIN Raden Mas Said Surakarta, Senin, 25 Mei 2026 dalam kegiatan Studium Generale yang berlangsung meriah dan penuh antusias. Acara ini menghadirkan dua narasumber kompeten, baik dari level nasional maupun internasional, dengan tema-tema yang sangat relevan di era digital.

Kegiatan dibuka dengan sambutan hangat oleh Direktur Pascasarjana UIN Surakarta, Prof. Dr. Islah, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau mengucapkan terima kasih kepada jajaran pimpinan Pascasarjana dan para tenaga kependidikan yang telah menyukseskan acara ini. Beliau secara khusus juga mengucapkan rasa bangga dan terima kasih kepada kedua narasumber yang telah bersedia hadir. Prof. Islah juga menyampaikan harapan besar agar kegiatan ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi para mahasiswa, mengingat tema yang diangkat sangat relate dengan tantangan dan dinamika zaman digital saat ini.


Sesi pertama menghadirkan Dr. Achmad Maulani, M.Si., Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat RI. Dengan apik, beliau membawakan materi bertema "SDM Indonesia, Tantangan, dan Peluang Kerja di Era Digital."
Dalam pemaparannya, Dr. Achmad Maulani menegaskan bahwa tantangan di era digital memaksa para civitas akademika untuk menjadi lebih kreatif di dunia yang tanpa batas. Ia menguraikan tiga faktor besar yang mempengaruhi sejarah peradaban manusia, yaitu agama, pasar global, dan teknologi informasi.
Lebih lanjut, ia mengutip pemikiran sosiolog ternama Anthony Giddens mengenai konsep "Juggernaut" yang berarti kereta kencana atau kereta raksasa. Menurutnya, Giddens menggambarkan globalisasi sebagai kekuatan luar biasa yang melaju cepat, tidak terkendali, dan dapat menghancurkan siapa saja yang menghalangi atau tertinggal di jalannya.
"Pilihannya sederhana, apakah kita bisa beradaptasi atau tidak. Inilah pandangan visioner yang harus kita cermati," tegasnya.
Dr. Achmad Maulani menekankan bahwa mahasiswa tidak boleh mengasingkan diri dari perubahan di era yang serba digital ini. "Mahasiswa dituntut harus adaptif di era modern ini. Yang terpenting adalah membangun kemampuan diri, meng-upgrade kemampuan diri saat kuliah," ujarnya.
Ia menyebutkan empat hal utama yang membedakan para mahasiswa dalam kompetisi di era ini, diantaranya adalah kemampuan berpikir kritis, komunikasi yang baik, kolaborasi, dan kreativitas.


Sesi kedua menghadirkan narasumber tak kalah menarik, yaitu Dr. Siti Marpuah, M.Ed., Ph.D., dosen studi Islam di Universiti Tun Hussein Onn Malaysia. Beliau mengangkat tema "Tantangan Pendidikan Islam dalam Menghadapi Teknologi AI."
Dr. Siti Marpuah mengawali pemaparannya dengan menyatakan bahwa kegunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan bukanlah hal yang baru di era modern ini. Namun, ia memberikan pesan penting yang disampaikan tegas di depan seluruh mahasiswa: "Saring sebelum sharing."
Menurutnya, AI adalah robot. "Robot tidak belajar agama dengan betul, ia hanya mendapatkan informasi dari file-file yang tersimpan. AI tidak punya perasaan. Kita tidak boleh memiliki ketergantungan 100 persen dengan AI," ingatnya.
Dalam materinya, teknlologi AI memang dapat menghasilkan jawaban dengan cepat, tetapi tidak semua informasi yang dihasilkan akurat atau berwibawa. Dalam pendidikan Islam, keaslian sumber sangat penting, misalnya referensi Al-Qur'an dan hadits yang sahih.
"Tantangannya adalah mahasiswa mungkin menerima informasi tanpa memeriksanya terlebih dahulu, dan dengan demikian rentan terhadap salah tafsir," jelasnya.
Dr. Siti Marpuah lalu mengutip Surah Al-Hujurat ayat 6: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika ada orang jahat yang datang kepadamu dengan membawa berita, maka selidikilah (tabayyun)…". Ia menegaskan bahwa pelajaran dari ayat ini adalah umat Islam wajib memverifikasi kebenaran informasi sebelum menerimanya.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa pendidikan Islam bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang membangun akhlak. Penggunaan AI yang berlebihan dapat mengurangi interaksi dengan guru yang bertindak sebagai murabbi (pembimbing moral). "Nilai-nilai adab, disiplin, sopan santun, dan rasa hormat kepada guru dapat terkikis," ujarnya.
Ia juga menyoroti perubahan metode pembelajaran. AI mengubah cara siswa belajar menjadi lebih cepat dan lebih digital. "Sistem pendidikan Islam perlu menyesuaikan pendekatan mereka tanpa mengabaikan tradisi seperti talaqqi (belajar tatap muka dengan guru)," tegasnya.


Sesi tanya jawab menjadi penutup kegiatan ini. Sesi ini berlangsung sangat dinamis. Beberapa mahasiswa tampak antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis kepada kedua narasumber. Sesi ini sukses dimoderatori oleh Dr. H. Syamsul Huda Rohmadi, M.Ag., yang lihai mengatur jalannya diskusi hingga berakhir dengan meriah dan penuh makna.
Kegiatan Studium Generale ini menjadi bukti komitmen Pascasarjana UIN Surakarta dalam membekali mahasiswanya tidak hanya dengan wawasan keagamaan yang mendalam, tetapi juga kesiapan menghadapi tantangan global dan perkembangan kecerdasan buatan. (faa)