
PascasarjanaNews- Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta kembali menyelenggarakan kegiatan Public Lecture yang inspiratif pada Senin (3/11/2025). Acara ini menghadirkan Dr. Sunarwoto, S.Ag., M.A., dosen Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus alumnus Program Doktor (S3) Tilburg University, The Netherlands, sebagai narasumber utama.
Kegiatan akademik ini berlangsung di Aula Pascasarjana Lantai 1 Gedung A, Kampus Pascasarjana Pakis, Klaten, dan dihadiri oleh ratusan mahasiswa baik dari program magister maupun doktor dari berbagai angkatan. Suasana aula tampak semarak dan penuh antusiasme sejak awal acara dimulai.
Tema yang diangkat dalam kuliah tamu kali ini adalah “Mediatisasi dan Mediasi dalam Riset Islam Digital”. Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan perkembangan kajian keislaman di era digital yang terus mengalami transformasi cepat, baik dalam aspek komunikasi, penyebaran wacana, maupun praktik keagamaan di media sosial.

Direktur Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Islah, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan pentingnya bagi civitas akademika untuk semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. “Kita harus semakin melek digital. Kalau tidak, kita akan tertinggal. Dunia akademik dan keagamaan kini menuntut kemampuan memahami serta memanfaatkan media digital dengan bijak,” tegas Prof. Islah.
Dalam pemaparannya, Dr. Sunarwoto menjelaskan konsep mediatisasi sebagai salah satu proses kunci dalam dunia digital yang turut memengaruhi kehidupan beragama. “Mediatisasi menjelaskan bahwa media kini telah menjadi institusi kuat dengan aturannya sendiri, yang disebut logika media (media logic). Agar pesan keagamaan dapat bertahan dan tersampaikan dengan efektif, institusi agama harus beradaptasi dan ‘bermain’ sesuai dengan aturan media tersebut,” jelasnya.
Lebih lanjut, Dr. Sunarwoto menguraikan bahwa setiap platform media memiliki logika tersendiri. Instagram menuntut visual yang menarik, Twitter mengedepankan keringkasan, sedangkan TikTok mengutamakan konten yang mengikuti tren algoritma. Kondisi ini menjadikan banyak konten keagamaan dikemas untuk mengejar engagement, jumlah like, comment, dan share daripada mengedepankan kedalaman teologis.
Proses tersebut, lanjutnya, berpotensi melahirkan apa yang disebut sebagai “agama banal” (banal religion), di mana agama berubah menjadi bagian dari gaya hidup populer, hadir dalam bentuk kutipan motivasi, tips fesyen halal, hingga wisata religi.
“Fenomena influencer keagamaan menjadi contoh nyata dari mediatisasi. Otoritas mereka tidak lagi diukur dari sanad atau kedalaman ilmu, tetapi dari metrik media sosial seperti jumlah pengikut. Di sini, otoritas keagamaan bergeser dari yang berbasis pengetahuan menjadi berbasis performa, penampilan kesalehan yang divalidasi oleh audiens dan algoritma,” papar Dr. Sunarwoto.
Kegiatan kuliah tamu berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang hangat. Mahasiswa tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan terkait fenomena dakwah digital, tantangan riset media sosial, serta perubahan otoritas keagamaan di era algoritmik.
Acara diakhiri dengan penyerahan cenderamata oleh pihak Pascasarjana kepada narasumber dan sesi foto bersama. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya wawasan mahasiswa pascasarjana dalam melakukan riset Islam kontemporer yang berpijak pada realitas digital, sekaligus memperkuat komitmen akademik Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta dalam mengembangkan kajian Islam yang kontekstual, kritis, dan progresif.(faa)