Loading...

Menjawab Seruan Zaman: Dekonstruksi Sekularisme dan Proyek Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Diterbitkan pada
5 November 2025 14:30 WIB

Baca

Menjawab Seruan Zaman: Dekonstruksi Sekularisme dan Proyek Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Oleh : Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.

(Kaprodi S2 - Studi Islam)

 

Prolog

Seorang mahasiswa Muslim di abad ke-21 hidup dalam sebuah paradoks yang membingungkan. Di satu sisi, ia dididik dalam tradisi agamanya yang kaya, yang menempatkan Tuhan sebagai pusat dari segala realitas dan wahyu sebagai sumber kebenaran tertinggi. Di sisi lain, ia mengenyam pendidikan modern; baik di bidang sains, ekonomi, maupun humaniora, yang secara implisit maupun eksplisit mengasumsikan alam semesta yang otonom, manusia sebagai tuan atas takdirnya sendiri, dan akal sebagai satu-satunya wasit kebenaran. Hasilnya adalah sebuah keterbelahan kepribadian (split personality), sebuah dualisme epistemologis yang memaksa sang mahasiswa untuk menyimpan imannya di dalam masjid dan memakai kacamata sekuler di dalam laboratorium atau ruang kelas.

Krisis ini bukanlah sekadar masalah individu, melainkan sebuah tantangan peradaban yang dihadapi oleh seluruh umat Islam. Ia adalah konsekuensi dari penerimaan yang tidak kritis terhadap sebuah paket ilmu pengetahuan yang, meskipun tampak netral dan universal, sesungguhnya terbungkus rapat dalam worldview sekuler Barat. Menyadari bahaya ini, para pemikir Muslim kontemporer melahirkan sebuah proyek intelektual yang ambisius dan sering disalahpahami: “Islamisasi Ilmu Pengetahuan.” Proyek ini bukanlah sebuah upaya apologetik untuk menempelkan ayat Al-Qur’an pada teori-teori Barat, melainkan sebuah proyek dekonstruksi dan rekonstruksi yang fundamental. Ia adalah upaya untuk membongkar “virus” worldview sekuler yang tersembunyi di dalam tubuh ilmu pengetahuan modern, dan kemudian menginfuskan kembali rūḥ dan visi tauḥīd ke dalam setiap arteri dan vena keilmuan.

 Diagnosis: Kuda Troya Worldview Sekuler dalam Ilmu Pengetahuan

Langkah pertama dalam setiap pengobatan adalah diagnosis yang akurat. Proyek Islamisasi ilmu dimulai dengan sebuah tesis yang radikal: ilmu pengetahuan modern tidaklah netral. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, setiap sistem pengetahuan pasti lahir dari dan mencerminkan sebuah pandangan hidup (worldview). Ilmu pengetahuan modern lahir dari rahim peradaban Barat yang telah melalui proses sekularisasi yang panjang; sebuah proses pembebasan manusia “pertama-tama dari kendali agama dan kemudian dari kendali metafisika atas akal dan bahasanya.”

Akibatnya, ilmu pengetahuan modern membawa di dalam DNA-nya serangkaian asumsi metafisik yang sering kali tidak disadari oleh para praktisinya. Asumsi-asumsi ini berfungsi layaknya Kuda Troya: ia masuk ke dalam benteng pikiran umat Islam dengan menyamar sebagai “sains objektif”, namun di dalamnya ia membawa “pasukan” ideologi sekuler yang siap menaklukkan dari dalam. Setidaknya ada tiga elemen kunci dari worldview sekuler ini yang telah meresap ke dalam tubuh ilmu:

Dualisme Fakta dan Nilai: Sekularisme membelah realitas menjadi dua domain yang terpisah: dunia fakta (objektif, publik, dapat diverifikasi) yang menjadi ranah sains, dan dunia nilai (subjektif, privat, personal) yang menjadi ranah agama dan etika. Pemisahan ini melahirkan ilmuwan yang merasa bisa mempelajari alam tanpa perlu merenungkan Sang Pencipta, atau ekonom yang bisa merancang sistem keuangan tanpa mempertimbangkan keadilan ilahi.

Humanisme Antroposentris: Dengan menyingkirkan Tuhan dari pusat realitas, worldview sekuler menempatkan manusia sebagai “ukuran dari segala sesuatu”. Kebenaran, kebaikan, dan keindahan tidak lagi merujuk pada standar ilahi, melainkan pada konsensus atau kehendak manusia. Hal ini melahirkan disiplin ilmu seperti psikologi yang mendefinisikan kesehatan mental tanpa konsep rūḥ, atau ilmu politik yang mendasarkan kedaulatan pada kehendak rakyat (vox populi) semata, bukan pada kedaulatan Tuhan.

Visi Tragedi tentang Eksistensi: Al-Attas secara tajam mengidentifikasi bahwa worldview Barat, yang berakar pada tradisi Yunani, memiliki visi yang inheren tragis tentang eksistensi manusia. Manusia dipandang sebagai makhluk yang terlempar ke alam semesta yang acuh tak acuh, berjuang melawan takdir yang kejam, dan berakhir dalam ketiadaan. Visi ini sangat kontras dengan visi Islam tentang eksistensi yang penuh tujuan, di mana manusia adalah khalīfah yang diberi amanah dan sedang dalam perjalanan kembali menuju Tuhannya. Visi tragis ini meresap ke dalam banyak karya sastra, filsafat, dan bahkan teori-teori sosial modern.

Ketika seorang Muslim mempelajari ilmu pengetahuan yang telah diresapi oleh ketiga elemen ini tanpa kesadaran kritis, ia secara perlahan akan mengalami erosi worldview. Ia mungkin tetap seorang Muslim secara ritual, namun cara ia memandang alam, manusia, dan masyarakat telah tersekularkan.

 Resep Pengobatan: Makna dan Metode Islamisasi Ilmu

Menghadapi diagnosis ini, Islamisasi ilmu menawarkan sebuah resep. Namun, resep ini sering kali disalahpahami. Islamisasi bukanlah:

Ayat-isasi: Sekadar mencari ayat-ayat Al-Qur’an atau Hadis yang cocok dengan teori-teori sains modern. Ini adalah pendekatan apologetik yang justru menempatkan wahyu sebagai pembenar bagi sains, bukan sebaliknya.

Penolakan terhadap Sains: Menolak metode ilmiah atau temuan-temuan empiris dari sains modern. Proyek ini sepenuhnya mengakui validitas metode eksperimental (tajribī) dan rasional (burhānī) dalam domainnya masing-masing.

Penciptaan “Sains Islam” yang terpisah: Menciptakan sebuah sistem sains alternatif yang eksklusif, misalnya “Fisika Islam” atau “Kimia Islam” yang berbeda secara substantif dalam data empirisnya.

Sebaliknya, Islamisasi ilmu, khususnya dalam formulasi al-Attas, adalah sebuah proses intelektual dua-langkah yang fundamental:

Langkah Pertama: Isolasi (‘Azl)

Langkah ini melibatkan proses dekonstruksi yang cermat. Tujuannya adalah untuk mengisolasi atau memisahkan elemen-elemen dan konsep-konsep kunci yang berasal dari worldview sekuler Barat dari tubuh ilmu pengetahuan modern. Ini ibarat seorang ahli bedah yang dengan teliti memisahkan sel kanker dari jaringan yang sehat. Proses ini menuntut penguasaan yang mendalam terhadap peradaban Barat; filsafatnya, sejarahnya, dan struktur konseptualnya, untuk dapat mengidentifikasi “virus” worldview yang tersembunyi di balik terminologi yang tampak netral. Misalnya, dalam ilmu ekonomi, konsep homo economicus (manusia sebagai makhluk rasional yang hanya bertujuan memaksimalkan keuntungan materi) harus diisolasi sebagai produk dari worldview sekuler.

Langkah Kedua: Infusi (Taslīm)

Setelah elemen asing diisolasi, langkah selanjutnya adalah menginfuskan atau memasukkan konsep-konsep kunci dan prinsip-prinsip fundamental dari worldview Islam ke dalam kerangka ilmu pengetahuan tersebut. Ini adalah proses rekonstruksi. Tubuh ilmu yang telah dibersihkan dari “virus” sekuler kemudian diberi “nutrisi” dari worldview tauhid. Melanjutkan contoh ekonomi, konsep homo economicus digantikan dengan konsep insān dalam Islam, yang tujuannya bukan sekadar keuntungan materi, melainkan falāḥ (kebahagiaan dunia dan akhirat). Seluruh bangunan teori ekonomi; dari produksi, konsumsi, hingga distribusi, kemudian direkonstruksi di atas fondasi baru ini.

Proses ini pada akhirnya bertujuan untuk mengembalikan ilmu pada tempatnya yang benar (adab), yaitu sebagai sarana untuk mengenal Tuhan dan sebagai alat untuk menjalankan amanah kekhalifahan di muka bumi. Ia bertujuan untuk menyatukan kembali dunia fakta dan dunia nilai, sehingga setiap penemuan ilmiah tidak hanya menambah pengetahuan kita tentang bagaimana alam bekerja, tetapi juga memperdalam kearifan kita tentang mengapa alam ini ada.

 Epilog

Proyek Islamisasi Ilmu Pengetahuan bukanlah tugas yang ringan. Ia menuntut lahirnya generasi baru cendekiawan yang menguasai secara mendalam dua samudra ilmu: samudra tradisi intelektual Islam (turāṡ) dan samudra ilmu-ilmu modern. Ia adalah sebuah perjuangan intelektual (jihād ‘ilmī) untuk membebaskan akal dan bahasa umat dari belenggu sekularisme.

Pada akhirnya, Islamisasi ilmu bukanlah sekadar proyek akademis yang terbatas di menara gading universitas. Ia adalah sebuah proyek peradaban. Sebab, sebagaimana ilmu pengetahuan sekuler telah membentuk peradaban modern dengan segala pencapaian teknologis dan krisis spiritualnya, maka ilmu pengetahuan yang telah diislamkan diharapkan dapat menjadi fondasi bagi lahirnya sebuah peradaban alternatif; sebuah peradaban yang tidak hanya maju secara material, tetapi juga luhur secara spiritual; sebuah peradaban yang mendamaikan akal dan wahyu, ilmu dan iman, dalam sebuah simfoni pengetahuan yang agung. Inilah jawaban Islam atas panggilan zaman, sebuah upaya untuk mengembalikan kompas yang hilang agar kemanusiaan dapat kembali menavigasi perjalanannya menuju kebenaran.