Oleh : Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.
(Kaprodi S2 - Studi Islam)

Di tengah kemajuan teknologi yang pesat dan penemuan ilmiah yang memukau, manusia modern justru merasakan sebuah kekosongan yang aneh. Kita mampu membelah atom dan menjelajahi angkasa, namun semakin sulit menjawab pertanyaan paling mendasar: untuk apa semua ini? Sains telah memberi kita kekuatan yang luar biasa, tetapi seolah merampas makna. Terjadi sebuah keretakan besar antara apa yang kita ketahui tentang dunia (fakta) dan bagaimana kita seharusnya hidup di dalamnya (nilai). Banyak yang menyalahkan sains, menuduhnya sebagai biang keladi materialisme dan krisis spiritual. Namun, bagaimana jika masalahnya bukan pada sains itu sendiri, melainkan pada “kacamata” yang kita gunakan untuk melihatnya?
Kacamata ini, dalam istilah yang lebih formal, adalah worldview atau pandangan hidup. Ia bukanlah sekadar opini atau preferensi pribadi. Worldview adalah kerangka konseptual fundamental yang menjadi fondasi bagi seluruh cara kita berpikir, merasa, dan bertindak, termasuk dalam aktivitas ilmiah. Ia adalah matriks tak terlihat yang menentukan apa yang kita anggap nyata, benar, dan berharga. Setiap peradaban, setiap kebudayaan, dan setiap individu, sadar atau tidak, beroperasi di dalam sebuah worldview.
Di sinilah letak perbedaan paling krusial antara pandangan Islam dan pandangan Barat modern yang mendominasi wacana global. Pemikir besar Muslim kontemporer, Syed Muhammad Naquib al-Attas, menggarisbawahi sebuah pembedaan vital. Ia menolak penyederhanaan worldview Islam menjadi sekadar naẓrat al-kaun, atau “pandangan tentang kosmos fisik”. Istilah ini, menurutnya, terlalu sempit dan merupakan cerminan dari pengaruh worldview Barat yang cenderung mereduksi realitas hanya pada apa yang dapat diindra dan diukur. Sains modern, yang lahir dari rahim worldview Barat, secara inheren beroperasi dalam kerangka naẓrat al-kaun ini. Ia brilian dalam menjelaskan dunia fisik, tetapi gagap ketika berhadapan dengan apa pun di luarnya.
Sebagai gantinya, al-Attas menawarkan istilah yang jauh lebih komprehensif: ru'yat al-Islām li al-wujūd, visi Islam tentang keseluruhan wujud atau eksistensi. Ini bukan sekadar “pandangan” (naẓrah), melainkan “visi” (ru’yah) yang menembus mata fisik hingga ke mata hati (baṣīrah). Objeknya pun bukan hanya kaun (alam ciptaan fisik), melainkan wujūd (keseluruhan eksistensi), yang mencakup realitas fisik dan metafisik, dunia yang terlihat (syahādah) dan dunia gaib (ghaib), kehidupan dunia (dunyā) dan akhirat (ākhirah). Dalam ru’yah ini, tidak ada pemisahan antara yang sakral dan yang profan; semuanya adalah satu kesatuan realitas yang saling terhubung dan bermuara pada Sang Pencipta.
Pembedaan ini bukan sekadar permainan semantik. Ia adalah kunci untuk memahami urgensi mempelajari worldview Islam hari ini. Ketika kita mengadopsi naẓrat al-kaun yang terbatas, kita secara tidak sadar telah menerima asumsi-asumsi worldview sekuler: bahwa fakta terpisah dari nilai, ilmu terpisah dari iman, dan akal terpisah dari wahyu. Hasilnya adalah ilmu pengetahuan yang “netral” namun sebenarnya buta arah, yang mampu menciptakan teknologi canggih tetapi juga krisis ekologis, senjata pemusnah massal, dan kekosongan spiritual yang meluas.
Sebaliknya, worldview Islam yang ditawarkan oleh ru’yat al-wujūd bersifat final, autentik, dan koheren karena bersumber dari wahyu, bukan dari spekulasi filosofis atau tren sejarah yang terus berubah. Ia menyediakan sebuah bangunan konsep yang kokoh di mana setiap elemen; konsep Tuhan, manusia, alam, ilmu, kebahagiaan, saling terkait secara harmonis.
Dalam bangunan ini, krisis dan dikotomi modern tidak mendapat tempat. Alam semesta bukanlah entitas otonom yang dingin dan tanpa makna, melainkan kumpulan āyāt (tanda-tanda) yang menunjuk kepada Penciptanya. Manusia bukanlah produk kebetulan evolusi, melainkan khalīfah yang diberi amānah. Dan ilmu pengetahuan bukanlah alat untuk menaklukkan alam, melainkan sarana untuk memahami tanda-tanda kebesaran-Nya dan menunaikan amanah kekhalifahan tersebut.
Dari fondasi inilah kita dapat menempatkan “Filsafat Ilmu” pada posisinya yang benar. Dalam tradisi pemikiran Barat, filsafat ilmu sering kali diposisikan sebagai upaya untuk membangun fondasi bagi sains dari nol. Ia bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Bagaimana kita bisa membenarkan metode ilmiah?” atau “Apa status kebenaran dari teori-teori sains?” Pertanyaan-pertanyaan ini muncul justru karena worldview yang melahirkannya tidak memiliki fondasi metafisik yang kokoh.
Dalam kerangka worldview Islam, posisinya terbalik. Filsafat Ilmu bukanlah akar (aṣl), melainkan cabang (far‘). Ia adalah turunan logis dari prinsip-prinsip metafisik dan epistemologis yang telah terkandung dalam ru’yat al-wujūd. Kita tidak memulai dengan pertanyaan, “Bagaimana sains itu mungkin?” melainkan dengan pernyataan, “Mengingat hakikat realitas, Tuhan, dan manusia seperti yang dijelaskan oleh wahyu, maka beginilah seharusnya sifat, tujuan, dan batasan dari aktivitas ilmiah.”
Dengan demikian, penamaan sebuah mata kuliah sebagai “Worldview Islam (Filsafat Ilmu)” bukanlah kebetulan, melainkan sebuah pernyataan epistemologis yang strategis. Tanda kurung tersebut secara visual dan konseptual menempatkan Filsafat Ilmu sebagai penjelasan atau derivasi dari Worldview Islam. Ini adalah langkah pertama dalam proses “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”: bukan dengan menempelkan ayat-ayat pada teori-teori Barat, tetapi dengan merestrukturisasi fondasi berpikir kita, dimulai dari cara kita menyusun kurikulum itu sendiri. Kita diajak untuk memakai kacamata ru’yat al-wujūd terlebih dahulu, baru kemudian memandang dan menata aktivitas ilmiah melalui lensanya.
Pada akhirnya, sains tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan “mengapa?”. Ia bisa menjelaskan bagaimana gravitasi bekerja, tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa gravitasi ada dan untuk tujuan apa ia diciptakan. Pertanyaan “mengapa” hanya bisa dijawab dari dalam sebuah worldview yang komprehensif. Sains modern, yang beroperasi dalam worldview yang terbatas pada dunia fisik, telah kehilangan kemampuannya untuk bertanya “mengapa”. Ia menjadi alat yang sangat efisien tanpa tujuan yang jelas.
Worldview Islam mengembalikan pertanyaan “mengapa” ke jantung aktivitas keilmuan. Ia tidak menolak metode ilmiah atau penemuan-penemuan sains modern. Sebaliknya, ia memberikan bingkai makna yang lebih luas, menempatkan setiap penemuan sebagai pengungkapan jejak-jejak Kebijaksanaan Ilahi di alam semesta. Dengan demikian, ilmu tidak lagi menjadi aktivitas yang mencerabut manusia dari spiritualitasnya, melainkan justru menjadi jalan untuk memperdalam iman dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Inilah saatnya kita menemukan kembali kacamata yang hilang itu, agar kita tidak hanya melihat dunia, tetapi juga memahami Wujud dalam totalitasnya.