Loading...

Membangun Sains di Atas Fondasi Metafisik Islam

Diterbitkan pada
29 September 2025 09:54 WIB

Baca

Membangun Sains di Atas Fondasi Metafisik Islam

Oleh : Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.

(Kaprodi S2 - Studi Islam)

 

Sains modern telah memetakan kosmos dengan presisi yang menakjubkan. Ia telah menyingkap hukum-hukum fisika yang mengatur galaksi dan partikel subatomik, namun dalam prosesnya, ia melukiskan gambaran alam semesta yang dingin, bisu, dan tanpa tujuan. Realitas direduksi menjadi materi yang bergerak secara acak, dan manusia hanyalah produk kebetulan dari proses evolusi yang buta. Krisis makna yang menghantui peradaban modern berakar dari sini: dari sebuah arsitektur realitas yang fondasinya keropos karena menolak segala sesuatu yang melampaui materi.

Worldview Islam menawarkan sebuah arsitektur alternatif yang kokoh dan agung. Ia tidak memulai dari keraguan, melainkan dari kepastian; bukan dari ketiadaan makna, melainkan dari Sumber segala makna. Fondasi ini bukanlah sekadar seperangkat keyakinan dogmatis, melainkan sebuah sistem metafisik yang koheren dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional, yang dibangun di atas empat pilar utama: konsep Tuhan sebagai Wujud Mutlak, konsep Wujud sebagai hierarki realitas, konsep Alam sebagai tanda yang berbicara, dan konsep Manusia sebagai mikrokosmos yang memikul amanah. Memahami arsitektur ini adalah prasyarat untuk membangun kembali ilmu pengetahuan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana.

Pilar pertama dan utama adalah konsep Tuhan, yang ditegakkan di atas prinsip Tauḥīd. Tauḥīd bukan sekadar pengakuan akan Tuhan Yang Esa, melainkan sebuah prinsip ontologis yang menegaskan bahwa hanya ada satu Realitas Hakiki yang menjadi sumber segala eksistensi. Para filsuf Muslim, dengan penalaran logis yang ketat, menyebut-Nya sebagai Wājib al-Wujūd (Wujud yang Wajib Ada, yang keberadaan-Nya adalah esensi-Nya sendiri). Seluruh alam semesta, sebaliknya, bersifat mumkin al-wujūd, atau wujud yang mungkin, keberadaannya tidak niscaya dan bergantung sepenuhnya pada Sang Wujud Wajib. Argumen ini secara elegan mematahkan rantai sebab-akibat yang tak berujung (tasalsul) yang membingungkan filsafat Barat. Dengan menetapkan Tuhan sebagai Sang Penyebab Pertama yang tidak disebabkan, fondasi metafisik Islam memberikan sauh ontologis yang kokoh bagi seluruh realitas. Tanpa titik awal yang absolut ini, seluruh bangunan pengetahuan akan runtuh ke dalam relativisme dan ketiadaan.

Di atas fondasi Tauḥīd, pilar kedua didirikan: sebuah pemahaman tentang Wujud (wujūd) itu sendiri. Berbeda dari filsafat Barat yang cenderung membedakan secara tajam antara esensi (māhiyyah) dan eksistensi (wujūd), pemikir seperti al-Attas menegaskan bahwa Wujūd-lah yang merupakan “esensi” hakiki dari segala sesuatu. Benda-benda di alam ini bukanlah substansi-substansi independen yang kebetulan “memiliki” eksistensi; sebaliknya, mereka adalah penampakan, penentuan, atau moda dari Realitas Wujūd itu sendiri yang Mahameliputi. Wujūd ini tidaklah datar dan seragam, melainkan terstruktur dalam sebuah hierarki (martabah al-maujūdāt). Di puncaknya adalah Tuhan sebagai Wujūd Murni. Di bawah-Nya terbentang alam-alam non-fisik: alam ruhani para malaikat atau intelek (‘uqūl), lalu alam imajinal (‘ālam al-miṡāl atau barzakh), dan akhirnya, di tingkatan terendah, adalah alam fisik yang kita indra. Hierarki ini bukanlah klasifikasi abstrak, melainkan peta realitas yang sesungguhnya, di mana alam yang lebih rendah adalah bayang-bayang dan simbol dari alam yang lebih tinggi. Konsekuensinya, realitas fisik tidak dapat dipahami secara utuh tanpa merujuk pada realitas metafisik yang menjadi asal-usul dan penopangnya.

Dari pemahaman tentang hierarki Wujud, munculah pilar ketiga: konsep Alam. Jika sains modern melihat alam sebagai entitas otonom yang diatur oleh hukum-hukum impersonal, worldview Islam melihatnya sebagai kitāb al-manẓūr (sebuah kitab yang terhampar, yang setiap fenomena di dalamnya adalah āyāt atau tanda-tanda yang menunjuk kepada Sang Penulisnya). Alam semesta bukanlah mesin yang mati, melainkan organisme hidup yang terus-menerus diciptakan dalam setiap momen (khalq jadīd). Karena itu, mempelajari alam, baik itu pergerakan planet, kompleksitas sel, maupun ekosistem hutan, adalah sebuah bentuk tafsir. Ia adalah upaya untuk "membaca" makna di balik simbol, untuk menangkap pesan kebijaksanaan, keteraturan, dan keindahan yang terpancar dari setiap ciptaan. Dalam kerangka ini, alam fisik (‘ālam al-syahādah) menjadi jembatan menuju pemahaman tentang alam gaib (‘ālam al-ghaib). Dengan demikian, aktivitas ilmiah tidak lagi menjadi usaha sekuler untuk menaklukkan alam, melainkan sebuah perjalanan spiritual untuk lebih mengenal Tuhan melalui karya-Nya.

Pilar terakhir, yang menjadi puncak sekaligus cerminan dari ketiga pilar sebelumnya, adalah konsep Manusia (insān). Manusia bukanlah sekadar hewan yang berpikir (al-hayawān al-nāṭiq), melainkan sebuah mikrokosmos (‘ālam ṣaghīr) yang dalam dirinya terhimpun seluruh tingkatan wujud, dari mineral hingga spiritual. Ia diciptakan dengan fitrah untuk mengakui Tuhannya, sebuah perjanjian primordial yang terpatri dalam jiwanya. Karena itu, ia diberi dua peran agung: sebagai hamba (‘abd) yang tugasnya adalah beribadah, dan sebagai khalifah (khalīfah) yang memikul amanah (amānah) untuk mengelola bumi dengan adil. Keadilan ini dimulai dari dalam dirinya sendiri: kemampuan jiwa rasionalnya (al-nafs al-nāṭiqah) untuk memimpin dan membimbing jiwa hewani (al-nafs al-ḥayawāniyyah). Kegagalan dalam menjalankan kepemimpinan internal inilah yang menjadi sumber segala kerusakan eksternal. Dengan demikian, manusia bukanlah penguasa absolut, melainkan manajer yang dipercaya, yang setiap tindakannya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Sang Pemilik Sejati.

Keempat pilar ini; Tuhan, Wujud, Alam, dan Manusia, saling terkait membentuk sebuah arsitektur realitas yang utuh dan bermakna. Keyakinan pada Tuhan sebagai Wājib al-Wujūd memberikan kepastian. Pemahaman akan hierarki Wujud memberikan struktur. Konsep Alam sebagai āyāt memberikan tujuan pada ilmu. Dan pemahaman tentang Manusia sebagai khalīfah memberikan landasan etika. Inilah fondasi metafisik yang hilang dari peradaban modern. Tanpanya, ilmu pengetahuan akan terus berlari kencang tanpa arah, menghasilkan kekuatan besar namun juga kekosongan yang lebih besar. Menggali kembali dan membangun di atas fondasi ini bukanlah sebuah langkah mundur ke masa lalu, melainkan sebuah lompatan maju menuju masa depan di mana ilmu dan kearifan dapat kembali berjalan beriringan.