Loading...

Islam di Persimpangan Global: Menavigasi Modernitas, Transnasionalisme, dan Postnormal Times

Diterbitkan pada
1 Desember 2025 14:15 WIB

Baca

Islam di Persimpangan Global:
Menavigasi Modernitas, Transnasionalisme, dan Postnormal Times

Oleh : Dr. Hamdan Maghribi, S.Th.I., M.Phil.

(Kaprodi S2 - Studi Islam)

 

Prolog: Agama dalam Arus Deras Globalisasi

Di penghujung abad ke-20 dan memasuki milenium baru, narasi tentang hubungan Islam dan Barat sering kali terjebak dalam dikotomi biner yang kaku; Islam versus Modernitas atau Jihād versus McWorld. Namun, realitas sosiologis di lapangan menunjukkan fenomena yang jauh lebih rumit dan saling terkait. Globalisasi tidak lagi sekadar ekspansi pasar ekonomi Barat ke Timur, melainkan sebuah proses kompresi ruang dan waktu yang memaksa agama untuk mendefinisikan ulang dirinya.

Islam kontemporer bukanlah entitas statis yang sedang bertahan dari gempuran modernitas; sebaliknya, Islam adalah partisipan aktif yang membentuk dan dibentuk oleh arus globalisasi. Fenomena yang kita saksikan hari ini; dari gerakan kesalehan di Eropa, aktivisme digital pemuda Muslim, hingga perdebatan teologis lintas benua, adalah produk dari interaksi intens antara doktrin agama dan infrastruktur modernitas.

Tulisan sederhana ini bertujuan untuk membaca kompleksitas tersebut melalui pemikiran tiga teoretikus utama yang menawarkan lensa berbeda namun saling melengkapi: Olivier Roy dengan analisisnya tentang Islam Global dan hilangnya basis kultur agama; Peter Mandaville dengan konsepnya tentang Politik Muslim Transnasional dan imajinasi ulang tentang Ummah; serta Ziauddin Sardar dengan visi futuristiknya tentang Transmodernitas dan Zaman Postnormal. Ketiganya mengajak kita melihat bahwa Islam di era global bukan lagi sekadar agama yang terikat pada tanah Arab atau Asia, melainkan sebuah identitas global yang cair, dinamis, dan terkadang, penuh gejolak.

Olivier Roy: Islam Global dan Tragedi Dekulturasi

Pemikir Prancis Olivier Roy, dalam Globalized Islam: The Search for a New Ummah (2002) dan Holy Ignorance (2010), menawarkan tesis yang provokatif; modernisasi dan globalisasi tidak membunuh agama (seperti prediksi teori sekularisasi klasik), tetapi justru mencabut agama dari akarnya.

Deterritorialisasi: Islam Tanpa Tanah Air

Roy memperkenalkan konsep deterritorialisasi (deterritorialization) untuk menggambarkan kondisi Islam saat ini. Islam tidak lagi melekat pada satu wilayah geografis tertentu (seperti Timur Tengah). Akibat migrasi massal dan internet, Islam telah menjadi fenomena global. Seorang Muslim di pinggiran Paris, Jakarta, atau New York dapat mengakses doktrin yang sama tanpa terikat pada tradisi lokal orang tua mereka.

Namun, ketercabutan ini memiliki harga mahal. Ketika Islam terlepas dari konteks budaya aslinya (misalnya budaya Pakistan atau Maroko), agama tersebut mengalami objektivikasi. Islam dilihat bukan lagi sebagai budaya bawaan, melainkan sebagai sekumpulan aturan atau kode etik yang harus dipelajari dan dipraktikkan secara sadar. Inilah yang menjelaskan mengapa pemuda Muslim generasi kedua di Barat sering kali merasa lebih Islami daripada orang tua mereka, namun dengan cara yang kaku dan skripturalis.

Holy Ignorance: Dekulturasi dan Fundamentalisme

Konsep paling tajam dari Roy adalah Dekulturasi dan Kebodohan Suci (Holy Ignorance). Roy berargumen bahwa fundamentalisme Islam modern bukanlah kembalinya tradisi masa lalu, melainkan produk dari dekulturasi. Ketika agama dipisahkan dari budaya (musik, seni, tradisi lokal dianggap bid‘ah atau tidak murni), yang tersisa hanyalah dogma telanjang; seperangkat larangan dan perintah yang kaku.

Bagi Roy, globalisasi mendorong standarisasi agama. Agar Islam bisa dijual dan dipraktikkan di pasar global, ia harus diformat ulang menjadi versi yang universal dan mudah dikonsumsi, lepas dari kerumitan budaya lokal. Hasilnya adalah McIslam atau Islam neofundamentalis yang seragam: jilbab yang sama, ritual yang sama, dan penolakan yang sama terhadap budaya setempat, baik itu budaya Barat maupun budaya tradisional leluhur. Kebodohan Suci merujuk pada fenomena di mana kesalehan diukur dari ketaatan literal pada norma, dengan mengabaikan kekayaan intelektual, filsafat, dan estetika sejarah peradaban Islam itu sendiri.

Peter Mandaville: Transnasionalisme dan Imajinasi Ulang Ummah

Jika Olivier Roy fokus pada sosiologi agama dan individu, ilmuwan politik Peter Mandaville dalam Transnational Muslim Politics: Reimagining the Ummah (2001) melihat dampak globalisasi pada struktur politik dan komunitas. Mandaville menolak pandangan bahwa umat Islam adalah blok monolitik, melainkan jaringan yang cair dan saling terhubung.

Politik Translokal: Melampaui Negara Bangsa

Mandaville menggunakan istilah translokalitas untuk menjelaskan bagaimana Muslim hari ini hidup. Mereka mungkin secara fisik tinggal di London atau Berlin, tetapi secara politik dan emosional terhubung dengan masalah di Palestina, Kashmir, atau politik domestik Turki. Globalisasi perjalanan dan teknologi komunikasi memungkinkan terciptanya ruang publik Muslim (Muslim public sphere) yang melintasi batas-batas negara bangsa.

Dalam pandangan Mandaville, negara bangsa (nation-state) tidak lagi memegang monopoli atas loyalitas warganya. Aktor-aktor non-negara; dari LSM Islam, gerakan dakwah seperti Jamaah Tabligh, hingga jaringan intelektual, kini memainkan peran krusial dalam membentuk wacana politik Islam global. Politik tidak lagi hanya tentang merebut istana negara, tetapi tentang mempengaruhi opini publik global.

Reimagining the Ummah: Dari Teologi ke Digital

Salah satu kontribusi penting Mandaville adalah analisisnya tentang bagaimana konsep Ummah (komunitas umat beriman) dimaknai ulang. Di masa lalu, Ummah sering kali bersifat abstrak. Namun di era digital, Ummah menjadi nyata dan dialami secara real-time. Melalui media sosial dan internet, penderitaan atau kejayaan satu kelompok Muslim di satu belahan dunia dapat dirasakan seketika oleh Muslim di belahan dunia lain.

Mandaville juga memperluas diskusi tentang Post-Islamisme dalam konteks global. Ia melihat bahwa banyak gerakan Islam yang dulunya fokus pada pendirian Negara Islam kini beralih ke aktivisme sipil, pasar (gaya hidup halal), dan isu-isu universal seperti hak asasi manusia dan keadilan global. Ini bukan berarti Islam kehilangan relevansi politiknya, tetapi modusnya berubah dari politik kekuasaan menjadi politik etika dan identitas di panggung dunia.

Ziauddin Sardar: Transmodernitas dan Menavigasi Postnormal Times

Berbeda dengan Roy yang analitis-pesimistis atau Mandaville yang deskriptif-politis, Ziauddin Sardar, seorang polimatik dan futurolog Muslim asal Inggris-Pakistan, menawarkan pendekatan yang konstruktif dan visioner. Ia mengkritik keras modernitas Barat sekaligus kejumudan tradisi Islam, dan menawarkan jalan ketiga.

Kritik atas Modernitas Barat dan Kejayaan Semu

Sardar berpendapat bahwa modernitas Barat, dengan klaim universalitas, rasionalitas instrumental, dan sekularismenya, telah gagal memberikan solusi bagi kemanusiaan, dan justru menciptakan krisis ekologi serta ketimpangan. Namun, ia juga sangat kritis terhadap umat Islam yang hanya bernostalgia pada masa lalu atau menyalahkan Barat tanpa menawarkan alternatif intelektual yang nyata.

Selamat Datang di Postnormal Times (PNT)

Sardar memperkenalkan konsep Postnormal Times untuk menggambarkan era kita saat ini. PNT didefinisikan oleh tiga C: Chaos (Kekacauan), Complexity (Kompleksitas), dan Contradictions (Kontradiksi). Di zaman ini, normal yang lama telah runtuh, namun norma baru belum terbentuk. Segala sesuatu berubah dengan kecepatan eksponensial, dan ketidakpastian adalah satu-satunya kepastian.

Bagi Sardar, umat Islam tidak bisa menghadapi Postnormal Times dengan fikih abad pertengahan yang statis atau dengan sekadar meniru Barat. Diperlukan ijtihād baru yang radikal dan pemikiran masa depan (futures thinking) yang serius.

Transmodernitas: Sintesis Tradisi dan Masa Depan

Solusi yang ditawarkan Sardar adalah Transmodernitas (Transmodernity). Jika Postmodernisme adalah dekonstruksi tanpa arah yang berujung pada nihilisme, Transmodernitas adalah upaya rekonstruksi.

Transmodernitas mengajak umat Islam untuk:

  1. Melampaui modernitas Barat tanpa menolaknya secara total.
  2. Menggali kembali tradisi yang meningkatkan kehidupan (life-enhancing tradition) dari sejarah Islam.
  3. Melakukan sintesis antara nilai-nilai etis tradisi (seperti adl, iḥsān, khalīfah) dengan sains dan teknologi kontemporer.

Transmodernitas bukan kembali ke masa lalu, tetapi membawa nilai masa lalu ke masa depan untuk mengoreksi ekses-ekses modernitas. Ini adalah visi tentang Islam yang percaya diri, terbuka, dan berkontribusi pada peradaban global, bukan sebagai musuh, tetapi sebagai mitra dialog yang setara.

Tiga Wajah Islam di Era Global

Ketika kita menyandingkan ketiga pemikir ini, kita mendapatkan peta yang komprehensif tentang dinamika Islam hari ini:

  1. Sisi Sosiologis (Olivier Roy): Memperingatkan kita tentang bahaya Dekulturasi. Islam yang tercerabut dari budaya lokalnya rentan menjadi kaku dan intoleran. Globalisasi tanpa filter budaya menciptakan identitas tanpa kearifan.
  2. Sisi Politis (Peter Mandaville): Menunjukkan kekuatan Jaringan. Islam di era global adalah kekuatan transnasional yang mampu memobilisasi opini dan sumber daya melampaui batas negara. Post-Islamisme menunjukkan adaptabilitas gerakan Islam masuk ke celah-celah demokrasi dan pasar.
  3. Sisi Filosofis-Futuris (Ziauddin Sardar): Memberikan Visi. Tanpa visi Transmodern yang jelas, umat Islam hanya akan menjadi konsumen pasif produk globalisasi atau reaksioner yang marah. Sardar menuntut kemandirian epistemologis.

Bagi Indonesia, analisis ini sangat relevan. Kita melihat gejala Holy Ignorance Roy dalam fenomena Hijrah selebriti yang sering kali membuang budaya lokal atas nama kemurnian Islam Arab. Kita melihat teori Mandaville bekerja dalam solidaritas Palestina yang masif yang digerakkan via media sosial melintasi ormas. Dan kita sangat membutuhkan visi Transmodernitas Sardar untuk memastikan bahwa Islam Nusantara atau Islam Berkemajuan tidak tergerus oleh modernitas, tetapi mampu memimpin peradaban dengan nilai-nilai etisnya sendiri.

 Epilog

Tulisan singkat ini mengajarkan kita bahwa Islam, Globalisasi, dan Modernitas bukanlah tiga entitas yang berdiri terpisah dan saling bertabrakan. Mereka telah melebur menjadi satu realitas tunggal yang kita hidupi hari ini.

Globalisasi telah memberikan megafon bagi Islam untuk menyuarakan pesannya ke seluruh dunia (Mandaville), namun di saat yang sama globalisasi mengancam akan menipiskan kedalaman budaya dan spiritualitas agama tersebut menjadi sekadar kode identitas (Roy). Tantangan bagi mahasiswa studi Islam dan umat Muslim secara umum adalah bagaimana menavigasi kekacauan zaman Postnormal ini (Sardar).

Jawabannya mungkin terletak pada kemampuan untuk menjadi Muslim Transmodern: mereka yang nyaman berselancar di dunia digital dan global, namun kakinya tetap berpijak kuat pada etika, kearifan tradisi, dan spiritualitas yang membumi. Islam masa depan bukanlah Islam yang lari dari modernitas, melainkan Islam yang berani membentuk ulang modernitas itu sendiri dengan napas kemanusiaan dan ketuhanan.