Loading...

Mengubah dari Dalam

Diterbitkan pada
12 Juni 2026 08:11 WIB

Baca

Mengubah dari Dalam

Oleh: Prof. Dr. Islah Gusmian, M.Ag.

Direktur Pascasarjana UIN Raden Mas Said Surakarta

 

 

Kemajuan teknologi sekarang ini telah menghadirkan berbagai kemudahan yang sangat mencengangkan dan mungkin tak terpikirkan sebelumnya. Informasi tersedia dalam hitungan detik, komunikasi menembus batas ruang dan waktu, dan berbagai kebutuhan hidup dapat dipenuhi hanya melalui sentuhan layar. Namun, bersamaan dengan itu, manusia justru semakin mudah dilanda kecemasan, kesepian, kelelahan mental, dan kehilangan arah hidup. Manusia semakin mudah mengetahui banyak hal, tetapi semakin sulit mengenali diri sendiri.

Ini bukan sekadar persoalan individu, tetapi telah menjadi gejala kebudayaan. Dalam arus informasi yang nyaris tak pernah berhenti, setiap hari manusia dibanjiri berita, opini, komentar, iklan, dan berbagai standar keberhasilan yang dipertontonkan secara terus-menerus. Akibatnya, kesadaran manusia tercerai-berai. Perhatian yang seharusnya menjadi pusat kendali kehidupan berubah menjadi serpihan yang berpindah dari satu hal ke hal lain, tanpa henti.

Dalam situasi mental masyarakat yang kelelahan, manusia tidak lagi ditindas oleh kekuatan eksternal, tetapi oleh dirinya sendiri. Manusia terdorong untuk terus produktif, terus tampil, terus berprestasi, dan terus membuktikan diri. Akibatnya, manusia menjadi lelah bukan karena terlalu banyak larangan, melainkan karena terlalu banyak tuntutan untuk menjadi sesuatu. Akhirnya mereka mudah kehilangan pusat dirinya. 

Dalam psikologi modern kondisi ini dikenal istilah mental clutter, yaitu kekacauan mental akibat penumpukan informasi, emosi, dan kecemasan yang tidak terkelola. Pikiran yang terlalu penuh kehilangan kemampuan untuk memilah mana yang penting dan mana yang tidak. Seseorang menjadi mudah marah, sulit berkonsentrasi, cepat merasa lelah, dan kesulitan mengambil keputusan yang sehat.

Ketika pikiran kacau, dunia pun tampak kacau. Padahal sering kali yang berubah bukanlah dunia, melainkan cara kita memandang dunia. Di sini, persepsi manusia terhadap realitas sangat dipengaruhi oleh keadaan batinnya. Orang yang dipenuhi kemarahan akan lebih mudah melihat ancaman di mana-mana. Orang yang dipenuhi ketakutan akan menemukan alasan untuk cemas dalam hampir setiap peristiwa, sehingga cepat mengeksklusi liyan. Sebaliknya, mereka yang memiliki ketenangan batin cenderung mampu menemukan harapan bahkan di tengah kesulitan.

Konflik-konflik yang tidak terselesaikan dalam batin pun sering kali diproyeksikan ke dunia luar. Tidak sedikit pertengkaran personal dan sosial, kebencian politik, bahkan fanatisme keagamaan yang sesungguhnya merupakan pantulan dari kegelisahan batin yang tidak pernah diselesaikan.

Erich Fromm telah mengingatkan kita bahwa manusia modern sering kali lari dari kebebasan karena takut berhadapan dengan dirinya sendiri. Ketika seseorang tidak mengenali dirinya, ia mudah mencari identitas melalui kelompok, ideologi, fanatisme, atau simbol-simbol sosial yang memberikan rasa aman semu. Di sinilah berbagai bentuk polarisasi sosial sering kali berakar. Karena itu, perubahan yang sejati selalu dimulai dari keberanian untuk berjumpa dengan diri sendiri yang sejati.

Gagasan ini sesungguhnya bukan hal baru. Sejak ribuan tahun lalu, para filsuf telah menempatkan pengenalan diri sebagai inti kebijaksanaan. Pada gerbang Kuil Delphi di Yunani kuno terpahat kalimat yang kemudian menjadi salah satu fondasi filsafat Barat: Gnothi Seauton—“Kenalilah dirimu.” Mengenali diri sendiri ini bagi para filsuf merupakan fondasi kebijaksanaan. Manusia yang tidak mengenal dirinya akan mudah diperbudak oleh hasrat, ambisi, dan ilusi. Karena pengetahuan yang sejati bukan mengetahui banyak hal, melainkan memahami siapa diri kita sebenarnya.

Cara berpikir ini memperoleh bentuk baru dalam filsafat eksistensial modern. Martin Heidegger misalnya pernah mengingatkan bahwa manusia sering hidup dalam keadaan yang disebutnya das Man, yaitu hidup mengikuti arus umum tanpa pernah sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri; menjalani kehidupan berdasarkan ekspektasi sosial, bukan berdasarkan kesadaran yang otentik. Akibatnya, manusia kehilangan makna terdalam dari keberadaannya.

Sejak lama, kita juga telah diingatkan oleh kearifan dalam berbagai tradisi filsafat Timur. Taoisme misalnya mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan hakikat kehidupan, sementara Buddhisme melihat penderitaan sebagai akibat keterikatan manusia pada hal-hal yang bersifat sementara. Dalam kedua tradisi ini, kebahagiaan tidak ditemukan melalui penumpukan kepemilikan, melainkan melalui kejernihan kesadaran. Semakin seseorang mengenal dirinya, semakin ia terbebas dari kebutuhan untuk terus-menerus membuktikan dirinya kepada dunia. Dalam konteks ini, manusia tidak terutama membutuhkan kesenangan atau kekuasaan, melainkan makna. Karena krisis terbesar manusia modern bukanlah kemiskinan materi, tetapi kekosongan makna. Ketika hidup kehilangan makna, manusia akan terus mengejar apa yang dikonstruksi sebagai prestasi, pengakuan, dan konsumsi tanpa pernah merasa cukup dan hakikat hidup.

Kearifan serupa juga telah diwariskan para leluhur kita dalam khazanah budaya Nusantara. Dalam tradisi Jawa dikenal ungkapan eling lan waspada. Eling berarti selalu mengingat asal-usul, tujuan hidup, dan keterhubungan manusia dengan Yang Mahakuasa. Sementara waspada berarti menjaga kesadaran terhadap setiap gerak pikiran, perasaan, dan tindakan. Kekacauan sering terjadi ketika manusia kehilangan sikap eling. Ia lupa siapa dirinya, lupa batas-batas kemanusiaannya, dan lupa bahwa hidup tidak semata-mata tentang diri sendiri, ambisi maupun pencapaian materi.

Karena itu, para leluhur Jawa mengajarkan konsep ngudi kasampurnaning urip, yakni upaya menyempurnakan kehidupan melalui pembenahan diri secara terus-menerus. Kesempurnaan yang dimaksud bukanlah keadaan tanpa kesalahan, melainkan kemampuan untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menjaga keseimbangan antara dunia lahir dan dunia batin.

Kearifan serupa juga ditemukan dalam budaya Bugis melalui konsep siri’ na pacce, yaitu kesadaran moral untuk menjaga martabat sekaligus kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Dalam budaya Minangkabau kita juga mengenal prinsip alam takambang jadi guru, bahwa kehidupan harus dijalani dengan kerendahan hati untuk belajar dari alam dan pengalaman. Berbagai kearifan Nusantara tersebut sesungguhnya berangkat dari prinsip yang sama: keseimbangan antara manusia, alam, masyarakat, dan Tuhan. Di Bali disebut dengan kesadaran tri hita karana. Seluruh kearifan ini mengajarkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari perubahan kesadaran dari dalam.

Perubahan kesadaran dari dalam ini, dalam perspektif spiritualitas, menjadi inti dari seluruh perjalanan manusia. Dalam Islam, hati (qalb) dipandang sebagai pusat kehidupan. Hati bukan sekadar tempat bersemayamnya perasaan, melainkan pusat kesadaran moral dan spiritual manusia.

Ketika hati dipenuhi iri, dengki, kesombongan, dan keserakahan, kemampuan melihat kebenaran menjadi kabur. Sebaliknya, ketika hati dibersihkan, pikiran menjadi jernih dan tindakan menjadi lebih bijaksana. Imam Al-Ghazali mengibaratkan hati seperti cermin. Jika cermin itu tertutup debu hawa nafsu, manusia tidak akan mampu melihat hakikat dirinya maupun hakikat kehidupan. Manusia sering mencari apa yang hilang di luar dirinya, kata Jalaluddin Rumi, padahal sumber cahaya itu berada di dalam dirinya sendiri. Menurut Rumi, perjalanan spiritual bukanlah perjalanan menuju tempat lain, melainkan perjalanan pulang menuju diri yang sejati. Karena itu, pengenalan diri bukan sekadar proyek psikologis, melainkan jalan spiritual menuju kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Tradisi tasawuf menyebut proses ini sebagai tazkiyatun nafs, penyucian jiwa. Tujuannya bukan menjauh dari kehidupan dunia, melainkan menghadirkan kehidupan yang lebih bermakna melalui manusia yang lebih sehat secara batin. Syekh Abdul Qadir al-Jailani juga mengingatkan kita bahwa musuh terbesar manusia bukanlah dunia di luar dirinya, melainkan ego yang tidak terkendali dalam dirinya sendiri. Di sinilah spiritualitas yang sejati bukanlah pelarian dari realitas, melainkan kemampuan menghadapi realitas dengan kesadaran yang utuh.

Dengan cara pandang di atas, perubahan sosial memperoleh makna yang terdalam. Kita sering berbicara tentang reformasi politik, pembenahan pendidikan, pembangunan ekonomi, atau perbaikan hukum. Semua itu memang penting. Namun sejarah menunjukkan bahwa perubahan yang bertahan lama selalu bertumpu pada kualitas manusia yang menjalankannya. Masyarakat akan kehilangan arah ketika individu-individu di dalamnya kehilangan kompas moral dan spiritual yang membimbing hidup mereka. Karena itu, perubahan sosial tidak cukup dilakukan melalui perubahan institusi, tetapi juga melalui pembentukan karakter dan kesadaran manusia.

Sekali lagi, peradaban tidak lahir hanya dari kecanggihan teknologi. Peradaban juga tidak tumbuh hanya dari kekuatan politik. Peradaban lahir dari kualitas kesadaran manusia yang menggerakkannya. Karena itu, di tengah dunia yang semakin gaduh, mungkin yang paling dibutuhkan bukanlah lebih banyak kebisingan, melainkan lebih banyak ruang untuk mendengar suara batin sendiri.

Kita memerlukan waktu untuk menata pikiran yang berantakan, membersihkan hati yang dipenuhi kecemasan, dan menghidupkan kembali kesadaran yang tertidur oleh hiruk-pikuk kehidupan. Sebab sering kali yang perlu diperbaiki bukanlah dunia yang kita hadapi, melainkan cara kita hadir di dalam dunia itu dan cara kita memahaminya. Jangan sampai kita menumpuk hasrat untuk mengubah dunia, tetapi lupa mengubah diri sendiri. Sejarah menunjukkan bahwa setiap peradaban besar berawal dari revolusi kesadaran manusia. Dan revolusi kesadaran itu dimulai dari satu tempat yang sama: dari dalam diri.